detik news

detiknews.co

Turunkan Angka Stunting, Yogyakarta Butuh Kolaborasi Semua Pihak

Jakarta, DetikNews.co – Upaya pemerintah dalam menekan angka Stunting di Indonesia sangat serius dilakukan melalui berbagai upaya diantaranya upaya intervensi spesifik dan sensitif sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintah Yogyakarta. Hal ini disampaikan Sekretaris DP3AP2KB Kota Yogyakarta, Sarmin, S.I.P., M.Si dalam acara sosialisasi dan KIE program Bangga Kencana, Sabtu (25/5/2024), di GOR Ponggalan Jl. Karawitan RW 06, Kel. Giwangan, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Acara sosialisasi dihadiri oleh Anggota Komisi IX DPR RI, H. Sungkono dan masyarakat Yogyakarta.

“Upaya spesifik ini merupakan tugas puskesmas dan rumah sakit seperti memberikan tablet tambah darah, asam folat, pendampingan kepada calon pengantin dan lainnya. Sementara upaya sensitif seperti yang dilakukan kepada ibu-ibu menghadiri acara ini untuk mengikuti pendampingan, pola pengasuhan anak, intervensi dari sanitasi dan lainnya,” jelas Sarmin.

Menurut Sarmin, Stunting bukan hanya tanggung jawab ibu-ibu saja, namun juga bapak-bapaknya karena akan sulit jika hanya tanggung jawab ibu-ibu saja. Selain itu, pemerintah DI Yogyakarta juga menggandeng kampus-kampus yang ada di Yogyakarta memalui program pengabdian kepada masyarakat dimanfaatkan untuk menangani Stunting. Sementara pemerintah Yogyakarta juga menggandeng Corporate melalui CSR-nya dan komunitas lainnya. “Kami berharap dengan kolaborasi tersebut dapat menekan angka Stunting di Yogyakarta,” harapnya.

Analis Kebijakan Ahli Muda Biro Hukum, Organisasi, dan Tatalaksana BKKBN Pusat, Ulil Abshor, S.I.P memaparkan bahwa ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari Stunting diantaranya tidak menikah diusia terlalu muda atau hamil diusia terlalu tua. Selain itu jangan terlalu dekat jarak antara anak satu dengan lainnya.

“Hindari kondisi tersebut. Untuk mencovernya perlu diberikan ASI eksklusif kepada bayi yang lahir selama enam bulan,” ujarnya.

Disaat yang sama, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi D.I Yogyakarta, Dr. Andi Ritamariani, M.Pd menghimbau kepada para calon pengantin untuk melakukan pemeriksaan kesehatan 3 bulan sebelum pernikahan agar dapat mengetahui standar untuk hamil. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan calon pengantin dalam kondisi sehat sehingga diharapkan dapat melahirkan anak-anak yang sehat.

“Silahkan dicek sebelum menikah. Kalau tidak dalam kondisi sehat, menikah silahkan dilanjutkan tetapi dimohon menunda untuk mendapatkan momongan. Jadi ketika akan hamil, kita pastikan sehat terlebih dahulu,” kata Dr. Andi.

Masalah lainnya yang perlu diperhatikan, lanjutnya, adalah asupan gizi.yang harus difahami betul oleh ibu dan bapak. Namun demikian, nantinya akan diberikan pendampingan yang telah ditugaskan dari pemerintah untuk masyarakat. (red)